Tere Liye

Tere Liye, seorang novelis yang sangat produktif.

Sayang, saya baru membaca satu novelnya, yang berjudul Bulan. Yang jelas, dengan membaca satu novelnya, saya bisa memahami, mengapa karya-karyanya digandrungi.

Enak dibaca!

Sebenarnya sampai saat ini saya belum minaaaaaat, banget menulis novel. Entahlah, mungkin karena selama ini lebih nyaman dengan non fiksi, walaupun sebenarnya di awal-awal belajar menulis, 4 tahun lalu, saya mulai dengan tulisan fiksi dengan mengambil ide kejadian nyata. Bahkan, terwujud menjadi sebuah buku dengan judul Atas Nama Cinta, kumpulan kisah inspiratif. Salah satunya sebuah kisah yang cukup panjang, sebenarnya bisa menjadi satu novel, tapi saat itu saya belum punya keberanian.

Andainya, pun menulis novel, saya ingin mengaitkannya dengan kehidupan tokoh-tokoh yang seharusnya dijadikan panutan, seperti nabi, sahabat nabi dan para salafus sholeh. Itu sebabnya, sampai saat ini keberanian itu belum muncul, karena membebani diri dengan syarat yang berat. Entahlah, bisa jadi setelah acara jumpa penulis nanti ada hal-hal yang mengubah pemikiran saya atau motivasi untuk menembus block yang saya buat sendiri ini.

Apakah saya tidak perlu belajar dari novelis?

Yeyyy! Sayang sekali melewatkan kesempatan langka ini?

Dengan anak kecil, pihak yang membenci, orang biasa saja saya mau belajar, apalagi dengan novelis yang sudah jelas karyanya digandrungi pembaca?

Fiksi, non fiksi, cerpen, novel atau apapun bentuk karya tulis, semua berbasis sama, yaitu menuangkan gagasan dengan cara menuliskannya.

Dari setiap penulis, apalagi yang sudah diakui karya-karyanya dengan fakta begitu banyak penggemarnya, tentu mempunyai hal-hal khas yang bisa dipelajari. Bukan-bukan untuk menjadi plagiat dalam karya, tapi ada pola belajar yang bisa kita gunakan untuk sebuah kesuksesan, yaitu pola N3.

N3, Niteni, Nerokke, Nambahi. Katakanlah ini berbasis falsafah Jawa, karena menggunakan bahasa Jawa.

Niteni, maksudnya mengamati tokoh yang sedang kita jadikan guru. Hal-hal apa yang ada padanya dan kita anggap ikut berperan dalam menggapai kesuksesannya.

Nerokke, menirukan. Setelah kita dapatkan berdasarkan pengamatan, tirukan langkah-langkah itu, persis dengan target tertentu.

Nambahi, menambahkan. Setiap pribadi memiliki kekurangan dan kelebihan, kekuatan dan kelemahan, maka sesuaikan apa-apa yang kita contoh dari guru tadi dengan menambahkan hal-hal yang menjadi kekuatan dan kelebihan kita, dan sesuaikan dengan kekurangan dan kelemahan, sehingga dapat menghindari hambatan-hambatan besar yang sekiranya akan menghalangi kesuksesan.

15 Oktober 2017, Taman Ismail Marzuki.

Tere Liye mendapat giliran pertama dari 7 penulis yang akan menjadi nara sumber.

Dengan gayanya yang cuek, dia duduk di sebuahmkursinyang di sediakan panitia dengan meja kecil di hadapannya.

Setelah meletakkan tansel laptop di sebelah kursinya, dia mengambil kike di meja dan mulai bicara dengan gaya apa adanya,ntanpa jaim, tanpa pencitraan.

“Saya Tere liye, seorang penulis! Novelis! Bukan ulama, bukan motivator.”

“Saya laki-laki, jadi tidak mungkin pakai jilbab.”

Hadirin tertawa berjmaah mendengar kalimat pembukanya yang terkesan gimana….gitu.­čśü

Ya, memang nama Tere Liye melambung setelah karyanya merajai dunia perbukuan. Sebelumnya terkesan menutup diri, seolah tanpa upaya membranding sebahai penulis. Terkesan seperti sebuah ungkapan”lihatlah karya saya, bukan saya”

“Senulis sejak tahun 1995, saat usia 10 tahun, artinya…berapa usia kepenulisan saya.” Tere melanjutkan bicaranya.

“Menulis itu memang ditumbuhkan. Kalian datang kesini artinya sudah ada cahaya kepenulisan yang harus dirawat. ┬áSeorang penulis bisa menerangi separuh dunia dengan karyanya.”

Woww! Kalimat yang menyihir!

Iqro! Fokusnya bukan pada baca, tapi BACA APA?

Mau jadi penulis? Penulis apa?

Menulis 1000 kata sehari? Lah, sudah biasa…hitung, sehari berapa kata kamu tulis chaat wa? Status fb?

Penulis yang baik = penulis yang produktif, bukan yang terkenal!

Kalau kalian menulis karena ingin terkenal dan kaya, maka tidak akan pernah menikmati harumnya dunia kepenulisan.

Apa motivasi menulis?

Motivasi itu harus diuji!
– penolakan
– cemoohan
– tidak laku

Apa resepnya bukunya best seller?

Nggak tau!

Hanya produktif! Meluruskan niat n motivasi.

Saya manusia yang sering ketemu bete, bad mood, mentok.

Tapi, setiap hari HARUS menulis, walau hanya satu huruf!

Berhentilah beralasan!

Segera!
1. Perbaiki motivasi! Dimanapun, kapanpun bisa menulis!

2. Mau nulis apa? Apa kesukaan, hobi, keseharian, yang jadi pikiran, kegalauan, semua hal bisa jadi bahan tulisan. Yang membedakannya adalah frekuensi menulis.

3. Bagaimana agar tulisan menarik? Penulis yang baik mempunyai sudut pandang yang spesial. Perbanyak latihan menemukn sudut pandang yang berbeda. Mencari sesuatu yang baru.—-pikirkan menggarap pembaca pemula—buat benang merah untuk menjaga pembaca.

Bagaimana membuat tulisan indah/baik? —tulis-tulis aja!

Hampir semua kalimat yang terucap, memotivasi hadirin.

Dalam waktu yang tidak tetlalu lama, Tere Liye bicara penuh makna dan memotivasi.

Jayalah para penulis yang berkarya dan menuliskan hal-hal yang memotivasi dan menginspirasi kebsiksn.

 

Add Comment