Tips Mebawa Anak ke Pengajian

tips mengajak anak ke pengajian

Sebagai orang tua, sudah seharusnya tidak berhenti menambah ilmu untuk meningkatkan kualitas diri, agar lebih optimal dalam menunaikan amanahnya mendidik anak. Apalagi kalau anaknya banyak, seperti saya. Kondisi saat anak pertama kecil, tentu berbeda dengan saat anak ke enam seusianya. Belum lagi, bertambahnya usia anak, tentu saja harus mendapakan perlakuan yang sesuai dengan usia perkembangan, dan…sesuai dengan zamannya.

Benar, untuk menambah ilmu, saat ini sangat dimudahkan dengan adanya teknologi internet, tetapi sebagai makhluk sosial, mengikuti kajian ilmu atau majelis dzikir mash sangat dibutuhkan.

Bagi seorang gadis, hampir bisa dikatakan tidak ada yang menjadi pengganggu saat ikut kajian, berbeda dengan seorang ibu yang tidak bisa meninggalkan anaknya di rumah atau daycare, saat ikut kajian.

Sebenarnya, tidak ada masalah membawa anak ikut kajian, selama tidak mengganggu, bahkan akan sangat baik untuk membiasakan anak ada dalam majelis ilmu. Tapi, pada kenyataannya, hampir semua anak yang sehat dan normal, tidak akan tahan berlama-lama duduk diam mendengarkan bahasan yang mungkin nalarnya belum mampu mencerna. Dan, seperti yang sering kita lihat, dalam forum kajian, kita melihat anak-anak balita berlarian, bercanda, menangis berebut sesuatu, mengajak ibunya keluar ruangan, bayi menangis, dll. Hal ini tentu akan mengganggu pembicara maupun peserta, setidaknya membuyarkan konsentrasi dan kekhusyu’an.

Bagaimana dengan sang ibu?

Mungkin ada ibu yang membawa anak terlihat tetap bisa fokus mengikuti kajian, entah apa yang ada di fikiran dan hatinya. Tapi ada juga ibu yang nampak gelisah dan tertekan, tetap berusaha membujuk anak-anaknya di dalam ruangan, tetapi ada juga yang segera membawa anaknya keluar, menenangkan dan menyelesaikan masalahnya tanpa mengganggu peserta lain.

Bagaimana dengan pengalaman saya sendiri?

Memang, sejak gadis saya sering mengikui kajian, bahkan setelah menikah, kajian rutin setiap pekan, belum lagi seminar, dll.

Setelah dianugerahi anak, pun, aktivitas itu tidak berhenti, sampai kini, semoga sampai akhir hayat. Sejak menikah, kami langsung hidup mandiri, terpisah dari orang tua dan tanpa asisten rumah tangga, kecuali hanya membantu urusan pakaian, yang setelah selesai langsung pulang. Jadi tidak ada peluang untuk menitipkan anak pada orang tua atau asisten, sementara saya ikut kajian. Jadi, enam orang anak, terbiasa ikut kemanapun saya pergi, tentu pada saat usia mereka tidak bisa ditinggalkan tanpa pengawasan orang dewasa.

Ada beberapa peristiwa yang saya alami dan itu sangat membekas. Saat anak kedua berusia sekitar 9 bulan, sudah bisa merangkak kemana-mana, aktif, saat itu saya ikut kajian di sebuah masjid yang ada lantai duanya. Kajian di lantai bawah, anak saya merangkak naik tangga! Akhirnya, saya mengikutinya naik turun tangga sambil mendengarkan kajian.

Saat anak ke 4 berusia sekitar 3 tahun, adiknya masih sekitar 2 bulan. Saya ikut kajian di bawah dengan bayi, sedang kakaknya saya serahkan pada pengawasan suami. Si kakak bermain dengan teman-teman sebayanya di suang atas, sampai terdengar suaranya memanggil saya dengan riang.

“Umiiiii!”

Saya cari arah suara, Subhanallah, si kakak di lantai atas, kepalanya ada di sela-sela pagar pembatas, dia belum menyadari bahaya.

Segera saya berlari ke atas, saat itu dia baru menyadari, kepalanya tidak bisa keluar, lalu dia menangis. Suami baru menyadari saat mendengar tangisnya, dan segera menyusul ke atas bersama beberapa peserta bapak-bapak. Saya sempat panik dan mengusulkan untuk membongkar pagar pembatas yang terbuat dari semen itu. Alhamdulillah, suami berusaha tenang, dan katanya, kalau bisa masuk berarti bisa keluar.

Alhamdulillah, setelah diupayakan dengan berbagai gerakan yang diarahkan, kepalanya bisa keluar. Kakak terlihat shock.

Lain lagi dengan anak ke enam, saat ikut kajian saya harus membawa ayunan dan mencari tempat untuk menggantungkannya. Dan banyak lagi kejadian-kejdian yang mendebarkan, menjengkelkan, lucu, dll.

Tentu kita ingin mengikuti kajian dengan khusyu tanpa mengabaikan hak anak atau mengganggu peserta lain.

Bagaimana caranya?

  1. Pertimbangkan dengan cermat urgensi kajian yang akan diikuti. Sangat pentingkah, perlu, atau bisa dicarikan ganti dengan cara lain?
  2. Pertimbangkan kondisi anak, apakah sedang sehat atau kurang sehat? Berapa lama anak harus bertahan di acara tersebut? Apa yang harus dipersiapkan? Kira-kira, apa yang harus dilakukan jika situasi tidak sesuai harapan?
  3. Adakah orang yang bisa dipercaya mengawasinya jika tidak diajak? Kalau ini yang terbaik untuk anak, tentu diutamakan.
  4. Jika memang harus dibawa, pesiapkan segala sesuatunya dengan detail, untuk kenyamanan anak, ibu dan peserta lainnya.
  5. Ambil posisi yang mudah keluar saat anak rewel, jangan menunggu emosi anak tak terkendali, segera ajak keluar saat menunjukkan tanda-tanda yang kurang baik.
  6. Ajak komunikasi anak, beri pengertian, bagaimana seharusnya adab di majelis, walaupun mungkin nalar anak belum bisa memahami.
  7. Jaga kondisi emosi ibu, tetap tenang dan berlatih terus untuk tidak mudah panik.
kiat membawa anak ke pengajian

Membawa cucu ke pengajian

Apa nilai positif bagi anak yang sering diajak kajian?

  1. Pembiasaan. Anak perlu dibiasakan dengan suasana kajian, walaupun pemahamannya belum sempurna. Jika dibiasakan sejak dini, maka anak akan merasakan kenyamanan kajian, sehingga dia merasakannya sebagai kebutuhan hidup.
  2. Anak butuh sebanyak-banyaknya pengalaman dalam hidup, untuk memperkaya dan melatih kecerdasannya dalam beragam tantangan yang harus dihadapinya.
  3. Dalam majelis ilmu ada keberkahan dan ketenangan, tentu akan sangat dibutuhkan orang tua maupun anak.

Semoga kita bisa tetap memenuhi konsumsi fikriyah dan tuhiyahbtanpa mengabaikan hak anak.

Add Comment