Tips Memilih Kepala Daerah

Di Indonesia, hampir sepanjang tahun ada pemilihan pemimpin, dari presiden, gubernur, bupati/walikota bahkan sampai tingkat RT. Jadi, sebagai rakyat, rasanya sulit kita untuk tidak terlibat di dalamnya, walau hanya sebagai pemilih.

Benar, secara pribadi kita punya hak untuk tidak memilih, tetapi kita tidak bisa menolak pemimpin dan dampak dari kepemimpinannya, karena kita tinggal di wilayah dengan peraturan yang diberlakukan.

Apakah memilih kepala daerah sama halnya dengan memilih suami?

Bukankah keduanya akan menjadi pemimpin/imam kita?

Saat memilih pasangan hidup, ada 4 hal yang biasanya jadi bahan pertimbangan:

    1. Tampan / cantiknya, hal ini wajar, mengingat dia akan menjadi teman hidup yang bisa jadi sepanjang hari akan bersama, kita senang dengan ketampanan/kecantikannya. Saat sedang berat dengan beban hidup, memandang pasangan yang tampan/cantik bisa menyejukkan mata dan menenangkan hati, kita bisa menikmati/ merasakan manfaat dari keelokan fisiknya.
    2. Kaya harta, tentu sangat kita butuhkan untuk menjalani kehidupan, apalagi semakin ke belakang tuntutan hidup yang serba cepat dan praktis sangat membutuhkan biaya. Wajar, kalau kita memilih pasangan hidup dengan kemampuan finasial yang memadai.
    3. Kedudukan sosial/keluarganya baik di masyarakat. Orang terpandang, istlahnya. Tentu ini mempengaruhi sikap orang lain terhadap kita, karena memang di masyarakat hal ini masih diperhitungkan. Penghormatan, pemuliaan, penghargaan, memang merupakan salah satu kebutuhan manusia.
    4. Agama. Logikanya, seorang manusia yang pemahaman agamanya baik, maka tutur kata, akhlak dan cara memimpinnya dilandasi rasa iman dan taqwa. Allahlah yang ditakutinya, yang selalu mengawasinya sehingga sikapnya akan selalu berhati-hati.

Bagaimana dengan memilih kepala daerah?

Satu hal yang perlu dipahami bahwa kita memilih hanya dari calon yang disediakan berdasarkan persyaratan yang diberlakukan. Jadi tidak mungkin memilih seseorang yang tidak masuk daftar calon KPU, sebaik dan sehebat apapun orang tersebut. Dalam keterbatasan calon, kita harus berusaha memilih yang terbaik di antaranya, mengingat nasib daerah lima tahun ke depan ada di tangan pemimpin yang terpilih.

Apakah saat memilih calon kepala daerah sebagai pemimpin sama dengan cara memilih suami sebagai pemimpin keluarga? Atau memilih istri sebagai pemimpin rumah tangga?

Mari kita bahas satu persatu:

    1. Kecantikan/ ketampanan seorang kepala daerah, apakah bermanfaat untuk kita? He he he, tentu hanya istri atau suami yang halal menikmatinya.
    2. Apakah kekayaan seorang kepala daerah bermanfaat untuk kita? Tidak juga, karena yang menikmati hanya keluarganya, sedang untuk rakyat menggunakan dana daerah yang berasal dari bumi dan pajak yang kita bayar ke negara.

Kekayaan CALON kepala daerah digunakan untuk sosialisasi dan kampanye dalam upaya mendapatkan dukungan rakyat untuk bisa terpilih jadi kepala daerah. Nah, dari sini kita bisa menilai kualitas calon.

Perhatikan, apakah hartanya digunakan untuk MENCERDASKAN calon pemilih dalam program-programnya ataukah justru hanya digunakan untuk MEMBELI suara? Kita tidak bisa menyamakan semua biaya yang digunakan untuk kampanye sebagai upaya membeli suara.

Bagaimana membedakannya? Kalau dana itu digunakan sekedar menyenangkan calon pemilih dengan berbagai bentuknya tanpa memberikan penjelasan tentang program-programnya jika terpilih, itu bisa dinilai MEMBELI suara. Tetapi jika dalam kampanye itu ada informasi MENCERDASKAN yang diberikan, terkait dengan pemerintahan atau berupa  program-program yang bermanfaat, maka dana yang dikeluarkan merupakan suatu hal yang sangat wajar, mengingat sebuah kegiatan pasti membutuhkan dana.

3. Tingkat sosial seorang calon kepala daerah tidak menjamin kecerdasan dan kepiawaiannya sebagai seorang pemimpin, dalam hal ini menguntungkan untuk memperoleh dukungan yang berbasis kekeluargaan, jadi ya hanya dinikmati keluarga besarnya. Kita yang bukan keluarganya tentu tidak memetik manfaat dari keistimewaan itu.

4. Pemahaman agama! Nah! Untuk yang satu ini, saya sepakat bahwa untuk memilih kepala daerah, sama dengan memilih pasangan hidup, mengapa? Pemahaman agama adalah nyawa dari kehidupan, semakin baik pemahaman agamanya, akan semakin baik kualitas kehidupannya dalam semua lini, apalagi terhadap amanah-amanahnya. Orang yang paham agamanya sangat takut melakukan suatu tindakan yang tidak diridhoinya; takut melanggar janji, takut berbuat curang, takut berbuat dzolim.

Bagaimana kita bisa tahu informasi tentang para calon itu?

    1. Ikuti pemberitaannya di media sebagai gambaran umum, bukan pegangan pokok, mengingat sekarang zamannya pencitraan. Walaupun antara pencitraan dengan personal branding beda tipis, tetapi setidaknya sedikit informasi bisa kita dapatkan di sana, dengan catatan, tetap perhatikan sumber beritanya.
    2. Kenali orang-orang terdekatnya, entah itu tetangga atau kader partainya. Di sini kita bisa bedakan antara partai yang mengadernya dengan yang mendukung. Kalau yang mengader, berarti ideologi partai tersebut merasuk dalam kepribadiannya, sedangkan partai pendukung, terkadang didekati saat akan mencalonkan diri karena dukungan partai ideologisnya kurang mencukupi secara persyaratan undang-undang. Dengan melihat karakter kader, setidaknya ada gambaran karakter komunitas yang ada pada diri calon.
    3. Ikuti forum-forum publik yang diadakan KPU atau media mainstrem, seperti bincang publik, debat kandidat, dll. Secara naluri, kita bisa menilai seseorang dari tampilan fisik, cara bicara dan bersikapnya di panggung terbuka.
    4. Perhatikan program-program yang dibuat saat kampanye, mencerdaskan atau menyenangkan?
    5. Perhatikan kinerja partainya, apakah hanya sibuk saat kampanye atau memiliki program berkelanjutan di masyarakat, walaupun kadernya tidak menjadi kepala daerah?
    6. Perhatikan janji dan komitmennya, apakah bisa dipantau setelah terpilih atau tertutup dan kita pasrah diperlakukan selama 5 tahun?

      Go 4 Service, aplikasi dari paslon 4 pilgun Lampung yang diberlakukan saat terpilih. Menyertakan masyarakat dalam pengawasan dan pengaduan dalam penyelenggarakan pemerintahan.

Terlepas dari siapa calon yang saya dukung, tulisan ini saya niatkan sebagai partisipasi sebagai warga negara dalam perpolitikan NKRI. Semoga bermanfaat.

Add Comment