Tips Memilih Sekolah untuk Anak

kegiatan SDIT

Butuh kreativitas penyelenggara sekolah untuk memberikan situasi belajar yang menyenangkan

Tips memilih sekolah untuk anak.

Masa-masa ujian sekolah berlanjut dengan penerimaan siswa baru sering bikin baper orang tua.

Ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak, tapi terkendala biaya. Bagaimana tidak? Untuk masuk ke sekolah yang dianggap berkualitas, baik tingkat TK, SD, SMP, SMA yang bukan negeri, butuh biaya yang tidak sedikit, bahkan melebihi untuk masuk perguruan tinggi negeri.

Apalagi kalau yang menggunakan label Boarding school, Standard Internasional, Islam terpadu, Bilingual, dsb, bisa belasan sampai puluhan juta.

Wajar, kalau sekolah-sekolah jenis itu dianggap hanya untuk kalangan menengah ke atas, kecuali yang mendapatkan beasiswa karena prestasi dan itu sangat sedikit.

Hmm, bagaimana solusinya?

Berikut beberapa tips yang bisa saya sampaikan berdasarkan pengalaman, mendidik 6 orang anak sebagai amanah-Nya, mengingat kami bukan termasuk keluarga menengah ke atas.

Evaluasi mindset kita tentang pendidikan.

Sebelumnya, pertanyaan-pertanyaan berikut harus dijawab, agar persepsi kita setara.

  1. Apakah pendidikan identik dengan lembaga pendidikan?

Ketika jawabannya ya, maka, saat kita ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak berarti mencarikan lembaga pendidikan berkualitas.

  1. Apakah lembaga pendidikan identik dengan sekolah formal? Berjenjang?

Jika ya, berarti kita harus mencarikan sekolah formal yang berjenjang. Kita bisa memilih yang berkurikulum standard kemendikbud atau memenag.

Jika untuk pertanyaan a dan b jawabannya tidak, maka kita bebas memilih metode pendidikan yang akan kita berikan kepada anak-anak dan fasilitas penunjangnya.

Inilah mindset kami tentang pendidikan.

Anak adalah amanah untuk orang tuanya, agar dididik menjadi hamba yang taat kepada pencipta-Nya.

Setelah kita selesai dengan urusan mindset, kita bisa melangkah ke tahapan berikutnya, menentukan hal apa saja yang harus ditanamkan kepada anak dalam pendidikan. Hal ini akan sangat terkait dengan harapan orang tua terhadap anak.

  1. Pendidikan dasar yang menjadi hak anak adalah keimanan dan akhlak, keduanya terkait hubungan manusia dengan Allah dan dengan sesama makhluk. Keimanan yang baik akan tercermin dalam akhlak yang mulia. Pendidikan ini dimulai sedini mungkin, bahkan sejak dalam kandungan, sampai waktu yang tak terbatas. Adakalanya orang tua butuh bantuan pihak lain dalam melakukannya, dan dalam proses mencari mitra inilah yang menjadi alasan orang tua memilih lembaga pendidikan yang sesuai dengan harapannya.  Prosesnya membutuhkan waktu tanpa hitungan jam perharinya, itu sebabnya diupayakan anak berada di lingkungan yang mendudkung proses pendidikan itu. Orang tua sekarang cenderung memilih boarding school karena khawatir anak salah bergaul di luar lingkungan rumah dan sekolah biasa.
  2. Pendidikan dasar ketrampilan, baca tulis, berhitung (calistung). Ada orang tua yang sanggup melakukannya sendiri, ada yang menyerahkan sepenuhnya pada sekolah bahkan ada yang menambahnya dengan diikutkan bimbel di luar jam sekolah.
  3. Pendidikan ketrampilan tingkat lanjut, biasanya langsung mengarah pada profesi. Incaran pada profesi tertentu menyebabkan kita memilih fakultas dan jurusan yang sesuai. Untuk bisa tembus fakultas yang diinginkan, anak disiapkan dengan ilmu pengetahuan umum yang beragam dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA.

Untuk mendapatkan a b c, orang tua cenderung memilih boarding school atau Islam Terpadu, yang sangat jarang kedua jenis lembaga pendidikan ini berbiaya murah.

Sangat dimaklumi, untuk mengejar kualitas dibutuhkan biaya peningkatan kualitas SDM dan sarana yang tidak sedikit, misalnya pun ada anggaran dana dari pemerintah, atau donatur, tidak mencukupi untuk biaya operasional, mau tidak mau sumber dana mengandalkan iuran dari orang tua murid.

Sering ada kecemburuan di masyarakat terkait hal itu, sampai ada terlontar pernyataan yang terungkap, seolah-olah yang berhak mendapatkan pendidikan berkualitas hanya keluarga mampu.

Saya sangat memaklumi, karena kami bagian dari mereka yang bernasib seperti itu, tetapi sayapun mahfum jika pihak sekolah tidak bisa mengapresiasinya.

Ibarat kata, mengomelpun hujan tetap turun, he he he, maaf, buat peribahasa sendiri. Maksud saya, daripada menyakiti hati sendiri dengan kenyataan yang ada, lebih baik kita mencari celah kemungkinannya.

Baik, kita bicara fakta.

Begitu bertaburan lembaga pendidikan yang tersedia dengan segala kelebihan dan kekurangan, dan tak ada tekanan dari manapun yang memaksa kita menyekolahkan anak dimana, maka kita pilih sesuai dengan kemampuan.

Kalau kata orang jawa, ono rego ono rupo, harga sesuai dengan kualitas yang kita dapat. Seperti di pasar, kita akan memilih barang yang sesuai dengan kemampuan dompet atau memilih barang yang sesuai keinginan, konskuensinya bekerja lebih keras untuk mendapatkan harganya.

Baik, saya akan bercerita tentang langkah-langkah kami dalam masalah ini.

  1. Untuk pendidikan dasar, TK,  kami bertekad memilihkan lembaga pendidikan yang terbaik menurut penilaian kami dan berusaha maksimal mencukupi biayanya, dengan pertimbangan, jangan sampai terlewat masa keemasan dimana pendidikan dasar terbaik harus ditanamkan. Kami merasa butuh dibantu, saya belum siap dengan home schooling. Alhamdulillah, ke 6 anak kami bisa sekolah TKIT, walaupun sungguh, kami merasakan terengah-engah. Bisa dibayangkan, biaya TK lebih besar dari biaya kuliah di Universitas negeri.

    fathers day

    guru-murid-orang tua, terlibat dalam kegiatan pembelajaran

  2. Untuk SD, 5 orang mencicipi SDIT, sedang seorang lagi SD Muhamadiyah, karena saat mau masuk SDIT tidak lulus tes psikologi, dianggap belum siap. Berhubung sianak sudah mau sekolah, kami daftarkan di SDM. Dari 5 orang anak yang sudah masanya lulus SD, hanya 2 yang sampai mendapat ijazah SD, yang tiga orang mengikuti ujian paket A karena sebelum tamat SD pindah ke pondok pesantren tahfidz Qur’an. Jangan ditanya berapa biaya untuk TK dan SD mereka? Bayangannya,…ah, sulit dibayangkan, tetapi kenyataannya Allah selalu memberi jalan, hanya saja kami tahu diri untuk tidak berpikir untuk berpenampilan seperti orang lain. Pakaian, rumah, kendaraan, gaya hidup…semua dinomorsekiankan, demi pendidikan anak.
  3. Untuk tingkat SMP, mulai berbeda-beda, sesuai kecenderungan masing-masing. Untuk anak pertama dan kedua, full mereka belajar di pondook tahfidz. Anak ketiga, selama 3 tahun seharusnya di tingkat SMP, dia mencicipi 4 pondok, satu kursus dan sempat belajar di rumah. Anak keempat memilih sekolah di SMPIT dekat rumah sambil menghafal qur’an. Anak keempat memutuskan home schooling dalam bimbingan saya, karena dia ingin belajar menjahit di sela-sela menghafal Al Qur’an, karena ingin menjadi desainer. Anak ke enam sekarang masih SDIT.
  4. Untuk pendidikan di usia setingkat SMA, 4 orang anak memilih jalur yang berbeda-beda. Anak pertama, sempat masuk boarding school selama dua bulan, kemudian keluar karena merasa terlalu lama harus sekolah di pondok. Di tahun pertama setelah keluar, dia magang di tempat usaha reparasi hp, kemudian elektronik, kursus bahasa Inggis dan akhirnya bergabung dengan keluarga yang mendidik anak-anaknya dengan sistem home schooling. Untuk biaya pendidikannya, hanya sedikit, bahkan ada yang tanpa biaya.

Anak kedua, setelah ujian paket B, diterima di lembaga pendidikan Turki, beasiswa full. Dengan fasilitas mewah bagi penghafal Qur’an, sudah dijalani hampir 6 tahun dan setelahnya disediakan tempat untukmenerapkan ilmunya.

Anak ketiga, juga mendapatkan beasiswa untuk program tahfidz mutqin dan diniyah.

Anak keempat, setia dengan jalurnya, ingin menguasai pendidikan umum formal tanpa melepaskan keinginannya menjadi hafidzoh, dan dia gigih berusaha untuk mendapatkan beasiswa, semoga Allah mengabulkan.

Apa tidak khawatir dengan masa depannya?

Kami yakin, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba yang bersungguh-sungguh dalam taat kepada-Nya.

Kami tidak terlalu obsesif dengan profesi tertentu, karena mengarah pada penghasilan yang pada intinya rizki sudah ada dalam tanggungan Allah.

Yang kami tekankan pada pendidikan adalah kesadaran bahwa kita hamba Allah yang harus mengikuti aturan-aturan-Nya, menanamkan karakter pembelajar sehingga anak terbiasa mandiri dalam mengatasi masalah dalam kehidupannya dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang diambilnya. Tentu terus disertai doa dalam setiap langkah. Ketika anak punya sebuah cita-cita, dengan modal pembelajar dan tanggung jawab, dia akan memperjuangkannya.

Jadi, ketika kita berpikir hal yang substansi, maka urusan yang lain bisa disesuaikan.

Ini hanya opini, kalau ada baiknya silakan diambil, jika tidak sepakat, tidak masalah, bukan?

One Response

  1. Dwi Septiani Mei 9, 2018

Add Comment