Yogyakarta

28 Maret 2019

Gerimis mengantar keberangkatan pesawat dari bandara Raden Inten II

Gerimis mengiringi pesawat Sriwijaya berbadan besar, dari bandara Internasional Radin Inten II, Lampung menuju bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Walau sempat sempat hampir 1 jam, Alhamdulillah, penerbangan lancar. Tiba di Jogja sesuai dengan perkiraan, sekitar 1 jam 20 menit lamanya penerbangan.

Sambil menunggu bagasi, saya menghubungi kakak, yang mau menjemput.
Rumah kakak di blok O, tidak jauh dari bandara. Memang beliau membeli rumah yang tidak jauh dari kompleks rumah dinas AURI, setelah masa pensiunnya.

Malam itu, saya beristirahat, sambil menghubungi orang- orang yang akan saya temui. Membuat janji dan menanyakan alamat jelas, sehingga memudahkan memesan grab

Agenda untuk besok dan lusa selama di Jogja, sudah tersusun rapi. Fix, agenda dimulai Jum’at siang, bertemu dengan nara sumber calon buku yang sedang saya garap.

Jum’at pagi, seseorang menghubungi via wa, mengenalkan diri sebagai pengelola MIT Ibnu Mas’ud. Beliau kerabat dekat seorang teman  blogger di Lampung. Meminta saya memberikan tausiyah dan motivasi untuk wali santri.

“Saya ada waktu pagi ini, siang sudah ada agenda.”

Sayang, tidak mungkin mendadak. Kecuali masalah sosialisasi kepada.peserta, juga butuh waktu hampir satu jam menggunakan grab, untuk sampai ke lokasi.

“Bagaimana kalau tanggal 5, atau kapan Umi bisa?”

“Sebentar, izin Abi dulu, menunda waktu pulang.”

Rencana awal, saya akan pulang hari Selasa dari Boyolali, menggunakan bis. Setelah cek jadwal pesawat, ada penerbangan Rabu sore. Hitungannya sama, dengan bis berangkat Selasa sore, sampai rumah Rabu siang. Kalau naik pesawat, sampai Rabu sore. Jelas, beda biaya, tapi dengan memperhitungkan badan, cenderung milih pesawat, mengingat hari Sabtunya a kan ke Palembang dengan bis.
Abi memberi izin, Alhamdulillah.

“Rabu pagi, ya sorenya pulang ke Lampung.’

Jadilah, nambah agenda.

Sebenarnya, tujuan utama perjalanan kali ini adalah menemui nara sumber tambahan. Rencana awal, maksimal akhir Maret, seperti yang saya targetkan, mengumpulkan bahan selama satu bulan, dimulai 1 Maret.
Seperti biasa, setiap perjalanan, banyak manfaat yang harus didapatkan, untuk mengimbangi pengorbanan waktu, tenaga dan biaya yang dikeluarkan.

Karena waktunya fleksibel, rencananya sekalian silaturahim dengan penulis Jogja yang akan mengadakan pertemuan rutin tangal 31 Maret.

Selain itu, saya menghubungi Sofi, sahabat yang tinggal di Magetan. Sekedar memberi tahu, saya akan ke Jogja, siapa tahu sedang ada rencana ke Jogja, bisa bertemu.

Di luar dugaan, beliau mengajak ke Magetan dan akan mengupayakan ada acara yang memberi saya kesempatan menyampaikan kajian. Apalagi saya baru saja menerbitkan buku Hafidz Rumahan.

Sayang, saya harus memilih. Jadwal kajian hari Ahad pagi, bersamaan dengan jadwal pertemuan penulis Jogja.

Keduanya acara tambahan. Saya harus memilih yang lebih memberikan manfaat untuk orang lebih banyak. Begitupun, apa yang saya cari, tetap didapat.

Kembali menghubungi Kayla, menjajaki berbagai kemungkinan bertemu penulis walau tidak ikut acara temu penulis Jogja.
Kesimpulannya, mentok. Belum ada keputusan, siapa yg akan ditemui, dengan berbagai alasan.

Saya berusaha mencari info dari teman-teman yang asli Jogja, sampai pada sebuah nama, Bu Ida, istri Pak Cahyadi Takariawan.

Saya kenal nama beliau di komunitas Ibu ibu doyan nulis (IIDN), dan seorang teman memberikan kontak beliau.

  • Yogyakarta

    Rumah Pak Cah, bersebelahan dengan BBM, balai belajar Masyarakat.

Setelah saya hubungi, disepakati pertemuan tersebut, Sabtu pagi di rumah beliau sekaligus tempat kajian. Bersyukur, Lia, salah satu nara sumber yang saya temui, sangat senang saat diajak bersilaturahim ke rumah Bu Ida.

Hampir selalu, saat bertemu dengan orang yang belum pernah bertemu sebelumnya, ketika ada kesamaan, maka bisa langsung akrab. Demikian saat saya jumpa dengan Bu Ida.

Pertama tujuan saya adalah silaturahim, disamping berharap masukan dalam hal kepenulisan, mengingat beliau adalah senior dan pendamping suaminya yang hasil karyanya sudah sangat banyak.

Yogyakarta

Bu Ida mengapresiasi buku yang saya tulis dan sharing tentang dakwah bil qolam

Nah! Yang di luar dugaan, saat Bu Ida meminta saya bicara di kelas Sekolah Ibu, bercerita tentang keluarga hafidz dan dakwah lewat tulis.

Ups! Mungkinkah saya menolak permintaan tulus ini?

Berbagi dan dialog tentang dakwah lewat tulisan

Sekitar 20 menit saya bicara dan menjawab beberapa pertanyaan peserta.

Setelah berpamitan, karena memang jadwal Bu Ida sebagai pemateri Sekolah ibu, saya dan Lia mencari tempat yang kondusif untuk ngobrol, sambil menikmati salad buah segar di sebuah cafe.

Ngobrol sambil ngemil salad buah segar.

Pembicaraan mengalir, yaa, seperti sahabat sedang menceritakan pengalamannya. Alhamdulillah, waktunya cukup.

Menjelang Dzuhur saya diantar ke rumah kakak, beristirahat, karena sorenya harus segera ke stasiun Lempuyangan, berkereta api menuju Magetan.

Yogyakarta

Setelah lebih dari 40 tahun, berkesempatan lagi naik kereta.

Hu hu hu, saya baru sekali naik kereta api, saat kelas 4 SD. Saat itu pergi dari Tanjung Karang menuju Baturaja, Sumsel. Sekitar 44 tahun lalu. ini.
Perjalanan hampir 3 jam dengan kereta ekonomi Pasundan.

Turun dari kereta di stasiun Madiun, Sofi dan keluarga sudah menunggu di pintu keluar. Peluk rindu melupakan bahwa kami sudah nenek-nenek. Heboh! Layaknya dua mahasiswi yang lama tak sua.
Saya dipersilakan sholat di mushola stasiun.
Saat akan meninggalkan stasiun, hujan petir menyambut, sehingga Mas Ghofir, suami Sofi, harus ekstra hati-hati mengemudikan mobilnya.

Yogyakarta

Bakso harga 10 000

Malam pertama di Magetan. Tempat pertama yang disinggahi adalah warung bakso. Dan di sana saya menemukan menu wedang jahe dengan harga 2500 rupiah saja.

Wedang jahe menghangatkan dan menyegarkan

Bakso panas dengan wedang jahe, cukup menolong saat badan letih dan dalam cuaca dingin.

Malam itu saya tidur dengan segudang rencana perjalanan selama di Magetan, mulai ba’da subuh, besok.

Add Comment