10 Langkah Menciptakan Surga dalam Rumah Tangga 1

Siapa yang tak ingin memiliki keluarga yang mendatangkan kebahagiaan?
Siapa yang tak ingin suasana surga mewarnai rumah tempatnya berlabuh, setelah lelah beraktivitas di masyarakat?

 

  1. Membuat Ikatan yang Berkah

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

(Terjemah QS Ar-Rum: 21)

Satu-satunya jalan menjalin ikatan halal dengan pasangan adalah menikah sesuai dengan tuntunan Islam, dan berusaha tidak mengotorinya dengan segala niat, sikap dan tindakan yang mengurangi kesuciannya. Jika terjadi juga, awali langkah dengan taubatan nashuha.

Menikahlah dengan calon yang memenuhi kriteria yang dianjurkan agama untuk dipilih, libatkan selalu Allah dalam upaya menemukannya.

Menikahlah dengan restu dan ridho kedua orang tua, karena dengan iringan doa mereka, kehidupan akan lebih berkah.

“Nabi saw. bersabda, “Ridha Tuhan itu di dalam ridhanya orang tua, dan ketidak ridhaan Allah itu di dalam ketidak ridhaan orang tua.”

(HR. Al-Hakim)

Menikahlah tanpa didahului hal-hal yang Allah tidak berkenan, seperti tindakan yang jelas-jelas dilarang dalam syariat. Baik dalam akidah (seperti perbuatan syirik), ibadah maupun akhlak.

Menikahlah tanpa mengembel-embelinya dengan hal-hal yang Allah larang di dalamnya, mudahkan urusan dan tidak memberatkan.

Menikahlah tanpa membuat acara-acara yang tidak perlu dan berpotensi mendatangkan pelanggaran atau dosa.

Baca juga: 10 langkah menciptakan surga dalam rumah tangga 2

Baca juga: 10 langkah menciptakan surga dalam rumah tangga 3

  1. Menerima Sepenuh Hati

Saat ayah seorang mempelai wanita menjabat tangan lelaki yang akan menjadi menantu, berdegup jantung karena akan melepas sebagian jiwanya. Anak yang selama ini dalam rengkuhan kasih sayang, perlindungan dan bimbingannya, akan diserahkan kepada orang lain yang belum mengenal sang gadis seperti dirinya.

Ayah ibu sang gadis berusaha menerima menantunya dengan sepenuh hati dan belajar mempercayai bahwa dia akan menjaga, membimbing, menyayangi dan membahagiakan anaknya.

Sang pria menerima amanah itu dengan kesadaran penuh, bahwa tanggung jawab bukan hanya kepada mertuanya tetapi juga kepada Allah, sang khalik. Menerima istrinya dengan segala kelebihan serta kekurangan dan siap beradaptasi,  bekerjasama membangun surga dunia dan berharap surga akhirat sebagai wujud dari keridhoan Allah.

Sang gadis menyadari sepenuhnya bahwa kini dirinya ada di bawah kepemimpinan suami, bukan lagi ayahnya. Siap mentaatinya selama dalam rangka ketundukan kepada Allah.

 

Baca juga: 10 langkah menciptakan surga dalam rumah tangga 4

…Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

(QS.An-Nisa:21)

Ayah ibu sang pria pun tahu bahwa kini anak lelakinya bukan lagi sepenuhnya milik mereka karena sudah ada istri yang memiliki hak atasnya, yang mau tidak mau menjadi bagian dari  kehidupan mereka.

 

Dia hasil didikan orang tuanya

Ketika sudah memutuskan untuk menikah dengan seseorang, maka satu hal yang perlu diingat, bahwasanya dia adalah seorang manusia dewasa dengan karakter yang sudah terbentuk, hasil didikan orang tuanya selama bertahun-tahun. Karakternya sudah menjadi warnanya.

Demikian halnya dengan dirimu.

Bersediakah kamu seketika mengubah karakter dan kebiasaan hidupmu sesuai maunya?

Selain keberatan, tentu kamu merasa kesulitan. Mungkin bukan berubah atau menghilangkan, tapi hanya melakukan penyesuaian-penyesuaian.

Hal ini harus disadari dan dipahami, sehingga tidak menjadi penuntut kepada pasangan. Alangkah baiknya kalau masing-masing memberikan yang terbaik, biasanya hal itu akan berbalas dengan sikap yang sama.

 

Masa lalu, biarlah ditelan waktu

Tuntaskan urusan masa lalu, sebelum memutuskan untuk menikah dengan dia, karena menikah berarti membuka lembaran baru kehidupan bersamanya.

Dia punya masa lalu, seperti halnya dirimu.

Perjalanan hidup yang panjang sebelumnya, sangat memungkinkan kamu dan dia pernah melakukan kesalahan, bahkan terperosok dalam banyak kekhilafan yang mempengaruhi kehidupan.

Biarlah, itu menjadi urusan dia dengan Tuhan nya, juga kamu, dengan Allah. Bertaubatlah dan bersungguh-sungguh tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Tak ada manusia yang suci dan sempurna, termasuk dirimu, juga dia.

Allah Maha Pengampun dan menyukai hamba-Nya yang pemaaf. Tak ada dosa besar, jika Dia mengampuninya, sebagaimana tak ada dosa kecil kecuali akan menjadi besar jika terus dilakukan tanpa ada istighfar yang dilantunkan.

 

Dia, pilihan terbaik untukmu

Siapakah yang mengusik hati manusia untuk tertarik, suka, cinta atau membenci seseorang?

Dia akan menjadi teman hidupmu selamanya, bi iznillah. Hatinya dalam genggaman Allah, sebagaimana juga hatimu, maka jangan pernah abaikan Allah dalam memutuskan hal sangat penting dalam hidup.

Pastikan, dia pilihan terbaik karena engkau menerimanya, begitupun dia, dan siap melangkah bersama. Itu berarti kalian siap beradaptasi dan melakukan penyesuaian untuk melangkah bersama.

Rupa, harta, status sosial, boleh menarik hatimu, tapi percayalah, itu bukan penjamin bahagia kalian. Pun rasa cinta yang menggebu, sangat mungkin berkurang bahkan lenyap sewaktu-waktu. Namun, jika keempatnya dilandasi keimanan dan ketaatan, maka hal itu menjadi penyempurna kehidupan kalian.

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.”

(HR. Bukhari-Muslim)

Jika sudah yakin, dia terbaik bagimu, sempurnakan penerimaan itu dengan ridho. Sepenuh hati.

Add Comment