10 Langkah Menciptakan Surga dalam Rumah Tangga 2

3. Menjadi Imam Penuh Cinta

Sebelumnya: 10 langkah menciptakan surga dalam rumah tangga

Memimpin dengan otoriter mungkin lebih mudah, tapi memimpin dengan penuh cinta, lebih disukai dan membuat nyaman hubungan dengan yang dipimpin.

“Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, maka sikapilah para wanita dengan baik.”  (HR.Bukhari)

Suami adalah pemimpin spiritual dan sosial bagi keluarganya.

Bagaimana bisa menjadi imam jika urusan sholatnya belum benar? Pelajari lagi bab tentang sholat, tambah hafalan Al-Qur’annya, supaya saat mengimami, bisa membaca ayat yang bervariasi.

Bagaimana bisa membimbing kalau membaca Al-Qur’annya masih terbata-bata? Ini salah satu yang harus ada dalam daftar kesiapan menikah. Sebuah kerugian kalau modal untuk mendapat balasan kebaikan dari setiap huruf yang dibaca, tidak mencukupi.

Bagaimana bisa mengayomi kalau tak paham syariat dan hukum dalam beragama? Keluarga harus   dijaga dan dilindungi dari kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

[QS. At Tahrim: 6]

Bagaimana bisa berwibawa kalau tidak bisa menafkahi keluarga? Menafkahi keluarga hukumnya wajib, berdosa jika melalaikannya. Jangan sampai sudah menjadi imam, tapi belum mampu menafkahi keluarga, walau belum mencukupi. Jangan sampai sudah menikah, masih tergantung pada subsidi orang tua. Jangan sampai, sebagai qowam, mengandalkan istri yang menjadi tulang punggung keluarga.

Memimpin dengan ilmu, menjadi keharusan untuk sebuah keluarga penuh berkah.

Ilmu yang melandasi keimanan.

Ilmu yang menjadi pengarah dalam menjalani kehidupan.

Ilmu yang memberi petunjuk dalam upaya menjaga keluarga dari kemaksiatan.

Ilmu yang bisa mengantarkannya menggapai ridho Ilahi.

Melepas anak gadis ke pangkuan menantu itu,…sesuatu

Baca juga: 10 langkah menciptakan surga dalam rumah tangga 3

4. Menjadi Istri yang Bidadari

Anggap saja bidadari itu sebagai karakter, sehingga seperti apapun fisik seorang wanita, dia bisa menjadi bidadari di dalam rumahnya.

Menyenangkan saat dipandang. Tentu ini relative, karena setiap orang punya selera tertentu, tapi setidaknya ada keumuman dalam hal ini. Tidak semua pria tergila-gila pada bentuk hidung mancung, kulit putih, bibir sensual, dll, tapi hampir semua orang senang dengan wanita yang berwajah ramah, murah senyum, memandang dengan penuh kasih, bukan dengan tatapan merendahkan.

Pada umumnya laki-laki senang dekat dengan wanita yang merawat tubuhnya, tidak mengeluarkan aroma tidak sedap, walaupun tidak harus dengan biaya mahal untuk kosmetik, pakaian dan perhiasan.

Laki-laki senang ditaati dan dilayani penuh kasih sayang. Allah menciptakan istri agar ada tempat bagi suami melabuhkan kasih sayang dan mendapatkan ketetraman.

“Yang paling menyenangkan jika dilihat suami, mentaati suami jika suami memerintahkan sesuatu dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya denga napa yang dibenci suami.”

Demikian jawab Rasulullah Saw, saat seorang sahabat bertanya tentang perempuan yang paling baik.

Baca juga: 10 langkah menciptakan surga dalam rumah tangga 4

4. Orang Tua, juga Mertua adalah Pintu Surga

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi)

 

Menikah berarti menyatukan dua keluarga yang memiliki latar belakang berbeda.

Mertua bukan rival dalam memperebutkan cinta anaknya, bahkan dia adalah orang tua yang akan menambah kasih sayang, perhatian dan bimbingan dalam menapaki kehidupan berumah tangga.

Mertua adalah sepasang pintu kedua, yang memperbesar peluang memasuki surga. Ridho Allah bersama ridhonya, selagi dalam ketaqwaan. Mencintai serta menyayangi orang tua  dan  mertua adalah naluri, berlaku adil merupakan tindakan bijak.

Jangan khawatir rizki berkurang karena berbagi pada orang tua dan mertua, bahkan keberkahannya akan melimpah karenanya. Rizki itu bukan semata karena kerja keras, tapi lebih merupakan karunia-Nya.

Add Comment