10 Langkah Menciptakan Surga dalam Rumah Tangga 3

 

6. Menjadi Ibu Generasi dan Ayah Murobbi

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf…(QS. Al-Baqoroh: 233)

Sebelumnya: 10 langkah menciptakan surga dalam rumah tangga 1 dan 10 langkah menciptakan surga dalam rumah tangga 2

Tahapan berikutnya setelah menikah adalah mengandung kemudian melahirkan. Tidak ada sekolah formal yang mendidik menjadi seorang ibu. Allah telah menyertakan naluri keibuan pada seorang wanita. Secara mendasar, setiap wanita normal bisa menjadi ibu. Yang membedakan adalah keluasan  bekal ilmunya, baik dalam merawat anak maupun mendidiknya. Dalam merawat anak, dibutuhkan ilmu terkait tugas perkembangan anak dan ilmu kesehatan.

Yang lebih rumit tentu ilmu bagaimana mendidik anak, karena ini menjadi tugas orang tua yang paling utama. Anak dilahirkan dalam kondisi fitrah, orang tuanya yang menjadikan mereka tetap dalam fitrahnya (Islam) atau menjadi pengikut selain Allah. Demikian juga dengan akhlaknya. Apa yang diajarkan dan dicontohkan orang tua sangat besar pengaruhnya pada akhlak dan karakter yang terbangun.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS. Lukman:13)

Orang tua adalah pihak pertama yang menerima amanah pendidikan anak, sedangkan sekolah, pesantren, tempat kursus dan tokoh-tokoh yang berkompeten, sebatas mitra dalam mendidik anak.

Memilihkan mitra mendidik menjadi tanggung jawab orang tua, terutama yang mengakui kapasitasnya untuk mendidik anak belum memadai atau masih butuh pihak lain untuk menyempurnakan, karena semua itu termasuk dalam amanah sebagai orang tua, mendidik anak-anaknya menjadi hamba Allah yang selamat dari siksa neraka.

Baca juga: 10 langkah menciptakan surga dalam rumah tangga 4

7. Menjadikan Rumah sebagai Masjid

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat)

Kalau kita berasumsi bahwa seluruh waktu kita untuk ibadah, itu tidak salah. Memang begitu seharusnya. Hanya saja yang perlu kita benahi adalah persepsi kita tentang ibadah.

Ibadah sangat luas cakupannya, tidak hanya sholat dan puasa, namun seluruh aspek kehidupan kita bisa bernilai ibadah.

Kalau masjid dianggap sebagai lambang tempat ibadah, karena di sana didirikan sholat sebagai ibadah yang paling utama, maka tentu rumah lebih luas lagi pemaknaannya dalam kaitan itu, menjadi tempat berlangsungnya semua jenis ibadah.

Ibadah itu yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridai oleh Allah SWT , baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya. (Pengertian ibadah menurut jumhur ulama).

Mengelola niat beramal karena mengharap ridho Allah, mengawali dengan bismillah setiap amal kebaikan yang akan dilakukan, merupakan upaya sederhana dalam rangka mengibadahkan seluruh aspek kehidupan.

 

8. Seni Mengelola Konflik dalam Rumah Tangga

 

Adakah sebuah rumah tangga berjalan tanpa pernah ada konflik?

Sepertinya mustahil, tapi kalau kita pernah menemukan keluarga nyaris seperti itu, mungkin bukan tanpa konflik, tapi sukses mengelola konflik.

Bukan hal mudah mengelola konflik antara dua orang yang berbeda latar belakang gaya hidup, pemikiran dan budaya.

Hal pertama yang harus dilakukan saat terjadi konflik adalah menyamakan persepsi, sehingga bisa melihat permasalahan dengan standar parameter yang tidak terlalu jauh berbeda.

Dan yang penting untuk selalu diingat, tujuan dari mengelola konflik adalah mencari solusi yang produktif, bukan siapa menang siapa kalah. Itu artinya, ada kesiapan untuk menurunkan ego masing-masing.

Kunci sukses mengelola konflik adalah ketrampilan komunikasi efektif, itu sebabnya hal ini harus terus dilatih.

Mengelola konflik adalah seni, artinya tidak ada ukuran yang baku bagaimana menyelesaikan sebuah konflik. Dalam seni ada unsur sentuhan keindahan, dalam berpikir, bertutur dan bersikap.

Add Comment