Beban sebagai Penggali Potensi Diri

Kontemplasi diri

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.

(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

-Surat Al-Baqarah, Ayat 286

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ …

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…
(QS. Al-Baqoroh: 286)

Apakah yang dimaksud dengan beban?

Dalam tafsir Fi Zilalil Qur’an, beban maksudnya tugas kekhalifahan.

Manusia telah diberi perangkat yang cukup untuk melaksanakan tugasnya sebagai Khalifah.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, manusia belum menanggung dosa dari keburukan yang belum dilaksanakan, baru diniatkan dalam hati.

Dalam tafsir Al Misbach, manusia dibebani dengan tugas syariat yang sesuai dengan kemampuannya. Kalau tidak bisa sholat dengan berdiri, maka diperbolehkan dengan duduk, dst.

Dalam kehidupan, tentu kita pernah merasakan terbebani dengan masalah yang seolah tak sanggup menanggungnya.
Kemudian ingat dengan ayat tsb dan mempertanyakan:
1. Apakah belum memahami makna ayat tsb?
2. Apakah belum maksimal mengupayakan?
3. Apakah mengambil beban yang bukan bebannya?

Jadikan beban-beban itu sebagai motivasi untuk berusaha lebih memahami setiap ayat Allah, kauniyah maupun qouliyah.

Mempelajari ayat Al-Qur’an secara tekstual dan mencerna setiap kejadian yang kita anggap beban sebagai latihan memahami ayat kauniyah.
Tak ada pertentangan antara ayat qouliyah dan kauniyah.

Hanya satu tujuan dari setiap peristiwa yang kita alami, agar lebih mendekat kepada Allah dan semakin tunduk menghamba hanya kepada-Nya.

Jadi fokus kita bukan pada seberapa berat beban itu, tapi bagaimana memikulnya, dengan berbagai kreativitas agar tidak terlalu terasa berat. Dan menjadikannya sebagai sarana untuk lebih dekat kepada-Nya.

Saat lelah membawa beban, jadikan kesempatan terbaik untuk khusyu’ bersandar pada Yang Maha Kuat.

Saat merasa buntu, jadikan kesempatan untuk merayu pada Yang Maha Kuasa agar diberi jalan keluar.

Saat menyadari beban itu akibat salah mengambil keputusan, segera bertaubat dan mohon bimbingan untuk memperbaiki dan melangkah lagi dengan benar.

Add Comment