Kenali Potensi Diri dan Lejitkan

Hari pertama di Aek Nabara.

Sebelum jam 8, UAR berkunjung ke tempat kami menginap, bersama santri membawa 2 motor.

Beliau menyampaikan, bahwa saya diminta memberi motivasi kepada santriwati Raudlatul Uulum, bersama istrinya, Ummu Hasan.

“Temanya apa, Tadz?”

Seperti biasa, sebelum bicara, saya pastikan dulu tema dan tujuan dari diadakannya acara tersebut.

“Santri mau perpulangan, intinya memotivasi mereka untuk tetap menjaga hafalan,” kira-kira begitu jawaban UAR.

“Motivasi untuk terus menambah ilmu,” Abi menambahkan.

Baiklah Sholihah, kita ngobrol-ngobrol aja, ya, tapi berkualitas.

Saya menghitung persediaan pakaian dan menyesuaikan dengan acara yang akan dihadiri. Itupun masih mungkin ada agenda yang kami belum tahu.

Begitulah ukhuwah, dinikmati saja, nggak usah terlalu njlimet dengan SOP job tertentu, insyaallah penuh berkah. Kalau ditanya kapan pulang, pun, saya belum bisa memastikan. Bukan nggak punya perencanaan, tapi harus fleksibel dengan takdir Allah.

Siapa yang tahu sebelumnya, kalau setibanya di sini, ternyata salah satu kerabat tuan rumah ada yang meninggal dunia?

Siapa yang tahu sebelumnya, kalau sehari disini, hujan mengguyur deras dan mengurangi/menggeser waktu dari agenda yang sudah direncanakan? Sisi baiknya, dimanfaatkan untuk istirahat, mengingat besok dan veberapa hari ke depan telah disiapkan agenda yang membutuhkan waktu dan energi yang membuat istirahat tidak sebanyak di hari biasa.

Jam 10 UAR datang dan memandu kami melalui jalan-jalan yang berliku.

“Kalau nanti pulangnya nggak diantar, ingat nggak, Bi, jalannya?” Sengaja saya menggoda Abi yang sering lupa jalan karena kemampuan mappingnya tralala trilili. Dan beliau hanya tertawa ha ha.

Sebelum ke lokasi pondok putri, kami dipandu ke pondok putra yang sedang menyiapkan panggung besar untuk acara besok.

Kemudian, langsung ke pondok putri yang jaraknya sekitar 600an meter. Di sana terlihat santri dengan pakaian yang sama, hitam, menutup seluruh tubuh, kecuali mata.

Mengingatkan saya pada kunjungan ke Temboro tahun 2019 lalu. Hanya beda jumlah, kalau di Temboro puluhan ribu, kalau di sini ratusan.

Tempat acaranya bukan di aula gedung, hanya di halaman yang dipasang tarup beratap sejenis baja ringan. Untuk panggung, ada gazebo kecil, dimana saya di posisikan bersama para ustadzah dan petugas acara.

Kak Lily, salah satu ustadzah yang sudah berhubungan dengan saya lewat wa, menyambut bersama beberapa ustadzah. Seperti biasa, teman-teman dunia maya lainnya, layaknya teman lama yang rindu bertemu, cieee.

Acara segera dimulai. Tidak banyak seremoni, hanya pembukaan dan tilawah Al Qur’an, lalu saya mendapat giliran pertama bicara, memberi sambutan.

“Berapa menit?” tanya saya pada moderator, khawatir kebablasan, kalau sudah pegang mic.

“15 menit.”

Toh saya tidak memperhatikan jam saat bicara, biar saja nanti Kak Lily yang mengingatkan, kalau kelebihan waktunya, wk wk wk.

Saya sudah memperkirakan, apa yang akan disampaikan oleh Ummu Hasan, karena sudah beberapa kali roadshow bersama, di awal buku Hafiz Rumahan terbit, tahun 2019. Maka saya tidak membicarakan apa yang akan disampaikannya, tentang metode menghafal dan penjagaannya, dan lagi saya bukan praktisi di bidang itu.

Saya ingin, generasi ini memiliki semangat belajar yang menggebu, haus ilmu dan terus belajar sepanjang hayat.

“Setiap hamba Allah diberi berbagai jenis potensi diri, maka kenali, asah dan lejitkan. Jadilah wanita yang menjadi bintang di bidang yang sesuai dengan potensinya, agar bisa menyinari dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang membutuhkan tuntunan.”

Seperti biasa, bercerita dan ngobrol tapi memiliki muatan motivasi dan inspirasi. Harapannya, walaupun tidak ke semua yang jumlahnya ratusan, 10% saja dari yang mendengar, terinspirasi dan termotivasi untuk menjadi lebih baik, sudah sangat disyukuri.

Selanjutnya, giliran Ummu Hasan yang bicara.

Mau tahu apa yang disampaikan?

Ini sedikit cuplikannya:

* Kunci mudah menghafal Al Qur’an:
– Jangan banyak makan
– Jangan banyak tidur
– Jangan banyak bicara
– Jangan banyak main.

* Jalan termudah menyenangkan orang tua, adalah dengan menghafal Al Qur’an

* Belajar bukan supaya hebat, pintar tapi supaya taat:
– pada aturan
– pada orang tua
– pada ustadzah
– pada Allah

* Jenuh itu dari syetan, jika dia datang, langsung tolak.

* Cape istirahat tapi jangan ada rasa jenuh.
* Bayangkan gimana lelahnya orang tua agar bisa mengirimkan anaknya belajar di pondok, saat merasa jenuh.

* Hidup hanya sekali, manfaatkan waktu sebaik-baiknya, jangan lakukan hal sia-sia.

* Anak usia di bawah 10 tahun, menghafal masih kemauan orang tua. DiĀ atas 10 tahun, seperti santriwati yang ada di sini, seharusnya sudah maunya sendiri.

* Yang Allah pandang bukan hasilnya, tapi susahnya berusaha, semakin banyak usahanya, semakin baik nilainya.
* Harusnya 7 tahun sudah hafidz, itu masa subur untuk menghafal.
* Membuat anak terbiasa, setahunya memang harus menghafal. Kurangi banyak tahu tentang hal lain.
* Gunakan masa muda, karena nanti akan dipertanyakan.

* Anak yang hafal Qur’an, akan menjadi kebanggaan orang tua.

Nah, mantap, kan pesan-pesannya? Hanya orang yang berkemauan kuat yang bisa melaksanakannya.

Berikutnya banyak tanya jawab, dari ustadzah ataupun santri.

Begitulah, dua nara sumber yang memilih gaya hidup dan pola asuh yang berbeda, bukan untuk membuat bingung, tapi untuk saling melengkapi, memberikan banyak alternatif pilihan yang sesuai dengan potensi dan kesempatan yang Allah berikan.

Sebagai perempuan, kita memiliki banyak kesempatan yang berbeda. Jangan merasa kesempatan orang lain yang lebih baik dan bisa menjadi hebat, tetapi pelajari hal-hal apa yang menghebatkannya, dan kita terapkan dalam kesempatan yang menjadi bagian kita.

Demikianlah, Allah ciptakan hidup ini penuh warna, untuk mengindahkan hidup dan saling mengisi.

Oke, kita tunggu agenda berikutnya, malam ini dan besok-besoknya.

Add Comment