Melepas Anak Kelima Merantau

Mungkin ada yang bilang,”Kok Umi tega banget, ya?”

Tega?

Ya, melepas Hafa pergi ke Jawa Tengah, tanpa diantar. Padahal baru sekali ini pergi sendirian dengan moda transportasi umum.

Iya, selama ini Hafa sudah sering pergi, bahkan sampai Surabaya, tapi dengan keluarga. Dan katanya, tidak terlalu memperhatikan tempat-tempat yang disinggahi.

Mau gimana lagi? Inilah yang paling mungkin dan terbaik, dengan pertimbangan yang sangat matang, secara ikhtiar manusia.

Sebenarnya di awal Juni, sudah janjian dengan orang tua Syifa, yang diterima di pondok yang sama, berangkat bareng, bawa mobil sendiri, dianter keluarga.

Seminggu kemudian, diputuskan, ga jadi bawa mobil. Bukan plin-plan, tapi menyesuaikan dengan kondisi banyak hal.

Rencana berikutnya, Hafa akan diantar Abi naik pesawat, tapi nggak segera pesan tiket, khawatir ada perubahan lagi. Sedangkan Syifa pengen naik bis, akhirnya disepakati jalan masing-masing.

Benar saja, akhir Juni baca berita ada rencana PPKM di Jawa dan Bali, dari tanggal 3-20 Juli, sedangkan jadwal Hafa harus sampai di pondok tanggal 4 Juli, rencana naik pesawat hari itu juga.

Weleh! Piye Iki?

Tanggal 29-30 Juni keluarga menghitung cermat segala kemungkinan, terutama Umi. Sekali-sekali keluar airmata, terutama saat selesai sholat.

Kemarin, 1 Juli, ada kepastian, PPKM resmi diberlakukan. Salah satu ketentuannya, terkait perjalanan.

Kalau naik pesawat harus ada surat keterangan sudah vaksin dan hasil tes PCR negatif.

Berapa biaya tes PCR?

Dua kali lebih mahal dari harga tiket pesawat!

Dan lagi, Abi sedang tidak bisa divaksin, sudah seminggu ISPA nya kambuh, batuk-batuk.

Tanggal 1 Juli malam, Abi, Umi, Hafa membahas ulang rencana keberangkatan tanggal 4. Dari semua sisi yang bisa dipertimbangkan. Hanya satu: Hafa berangkat naik bis bareng Syifa yang diantar ayahnya, tanggal 2 Juli.

Umi dan Abi pasrah pada Allah, apapun keputusan Hafa akan didukung.

Hafa yang lembut, yang belum pernah pergi jauh sendirian, dengan tegar dan legowo memutuskan, berangkat besok naik bis bareng Syifa dan ayahnya. Masyaallah!

Oke, siap!

Umi langsung kordinasi dengan ayah Syifa yang tinggal di Pringsewu, menanyakan bis dan jam keberangkatan, minta foto tiket. Juga terkait persyaratan perjalanan.

Ternyata tidak ada syarat apa-apa. Sedangkan persyaratan untuk pondok, surat keterangan terkait covid akan dibuat di sana, di klinik terdekat. Semoga masih ada kursi di bis yang sama.

Waktu sudah hampir jam sepuluh malam. Pool bis ditelpon nggak ngangkat.

Mau apalagi? Harus nunggu pagi.

Alhamdulillah, dapat kursi, karena ada penumpang yang membatalkan perjalanannya.
Alhamdulillah, ga ada syarat vaksin, PCR atau sejenisnya.

Untuk antisipasi, Hafa diajak Abi cek genose, selanjutnya, tawakal.

Umi kordinasi dengan pihak pondok, karena datang sebelum jadwal yang ditetapkan.

Alhamdulillah, boleh.

***

“Fa, Umi melepas Hafa ibarat melepas seorang prajurit yang melewati ladang penuh ranjau. Nggak tahu di titik mana ranjau ditanam.”

“Kenapa, Mi?” tanya Hafa.

“Virus covid dengan berbagai varian bergentayangan dimana-mana. Hafa mau melakukan perjalanan jauh, bahkan di daerah yang akan diberlakukan PPKM. Yang biasanya keluar rumah untuk ke kantor disuruh kerja dari rumah, Hafa malah keluar. Melewati tempat-tempat umum dan berinteraksi dengan orang banyak.”

“Tapi Apa (Hafa) nggak khawatir apa-apa,” jawab Hafa.

Baiklah, sholihah. Memang saatnya harus sekarang, setelah tahun lalu digagalkan karena Umi keberatan.

Walaupun Umi masih khawatir, tapi nggak boleh egois. Hafa punya rencana hidup yang baik, wujudkan lah.

Sepenuhnya penjagaan Hafa Umi serahkan pada Allah, yang memiliki perlindungan sempurna.

Bismillah.
Jangan malu bertanya pada orang yang tepat.

Bismillah.
Jangan segan minta tolong untuk hal sekiranya Hafa butuh dibantu.

Begitu juga sebaliknya.

***
Di perjalanan menuju pool bus, Hafa nyeletuk,”Mi, kok Apa(Hafa) deg-degan, agak khawatir, gitu.”

“Mau dibatalkan?”

“Nggak, nggak, nggak!” Hafa cepat menjawab, menggeleng dengan keras.
*
Sampai di pool, buru-buru ke loket untuk laporan, kemudian masuk bis yang sudah siap berangkat.

Itu kali pertama kami bertemu Syifa dan ayahnta. Karena waktunya sempit, Umi hanya mengantarkan Hafa ke kursinya, yang bersebelahan dengan seorang bapak. Setelah berpelukan dengan Hafa dan menitipkan pada ayah Syifa, berpamitan. Sebelumnya sudah chattingan, kalau memungkinkan biarlah Hafa duduk bersebelahan dengan Syifa, supaya ada teman ngobrol.

Kemudian Umi, Abi dan Harish kembali ke mobil, menunggu bis berangkat. Air mata Umi mulai menitik.

Saat bis bergerak, siap berangkat, Abi dan Harish turun, melambai sambil merekam video.
Ketika Harish masuk mobil, menangis tersedu-sedu, Umi kaget, soalnya tadi saat keluar, masih ketawa-ketawa.

“Kenapa, Rish, dimarah Abi?”

Umi curiga, mungkin Abi mengingatkan saat Harish kurang hati-hati, namanya di tempat kendaraan bersliweran.

“Nggak!” Jawabnya, agak ngegas.

“Trus kenapa?”

“Sedihhhh, hu hu hu.”

Masyaallah.

Umi tertegun dan ikut menangis, tapi dengan menahan suara.

Abi diam, fokus nyetir. Walaupun pasti sedih juga.

Yahh, perpisahan memang menyedihkan. Walaupun di rumah kalau ketemu ada aja usilnya bikin Hafa teriak dan kadang membalas, tapi saat menyadari akan lama tidak bertemu, sedih banget.

Sepertinya sebentar lagi Harish juga begitu. Rencana tahun depan mau merantau.

Kalau dilihat usia, Hafa memang paling terlambat merantau. Wajar kalau sudah sulit ditahan. Dia ingin merasakan pengalaman jauh dari orang tua dan keluarga, seperti 4 orang kakaknya.

***

Aih, sudah lama nggak merasakan debar-debar karena memikirkan anak gadis yang jauh dari rumah. Sejak setahun lalu diputuskan, Husna kembali ke Lampung dan belajar di sini.

Alhamdulillah, pagi ini Hafa sudah sampai lokasi. Selamat, sehat, insyaallah.

“Apa (Hafa) diajak belanja ke pasar,” katanya, saat ditelpon.

Kalau nggak salah, Hafa nggak pernah belanja di pasar tradisional. Biasanya ke warung, minimarket atau mall, sedangkan di pasar tradisional, transaksinya agak berbeda.

“Ikut aja!” Abi yang jawab.

“Ikut, Fa, sekalian pengenalan lingkungan, pelajari adat dan kebiasaan setempat, mumpung ada yang menemani,” tambah Umi.

Dari video yang dikirim ayah Syifa, ternyata yang transaksi, beliau. Hafa dan Syifa memilih barang yang dibutuhkan.

Alhamdulillah, Allah kirimkan orang yang bisa mewakili Umi Abi. Semoga selalu dalam kecukupan, perlindungan dan keridhoan Allah, aamiin.

***

Melepas anak, walau yang kelima, tetap saja masih merasakan sedih. Saat sendiri, teringat, rindu, khawatir, akhirnya menangis. Semoga di sana Hafa baik-baik saja; sehat, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, nyaman dan semangat belajarnya meningkat, aamiin.

Add Comment