Merawat Pintu Surga

“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.”

(HR. Ahmad/Tirmidzi)

Al-Qadhi Baidhawi mengatakan, “Makna hadis, bahwa cara terbaik untuk masuk surga, dan sarana untuk mendapatkan derajat yang tinggi di surga adalah mentaati orang tua dan berusaha mendampinginya.

Ada juga ulama yang mengatakan, ‘Di surga ada banyak pintu. Yang paling nyaman dimasuki adalah yang paling tengah. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu itu adalah menjaga hak orang tua.’ (kitabTuhfatul Ahwadzi)

Saat orang tua ada, kita masih bisa mencium tangan beliau memohon doa dan keridhoannya; Setiap akan keluar rumah, setiap akan melakukan sebuah usaha, menghadapi ujian, setiap selesai sholat atau akan pergi tidur.

Saat orang tua ada, kita masih bisa berucap”maaf” dan menunduk dalam, ketika beliau memarahi karena kita melakukan kelalaian dan kesalahan. Untuk meredam kemarahan beliau, walau tidak sepenuhnya itu kesalahan kita.

Saat orang tua ada, kita masih bisa memeluk dan mengelus punggung beliau sambil menghibur, “Sabar, Ikhlash,” ketika ada yang menyinggung dan menyakiti hatinya.

Saat orang tua ada, kita masih bisa membelikan makanan kesukaannya dan menyaksikan gemintang bahagia di netranya, saat menerima. Seperti jerit gembira anak kita saat dibawakan oleh-oleh.

Saat orang tua ada, kita masih bisa mengurut tengkuknya yang dikeluhkan tegang, sambil mendengar cerita masa mudanya, walau diulang-ulang.

Saat orang tua ada, kita masih bisa mengajak atau mengajarinya beribadah yang belum sempat dipelajarinya karena kondisi zaman di masa kecilnya. Masih bisa mengajaknya diskusi tentang sikapnya yang tidak sesuai dengan aturan Allah.

Saat beliau tak ada lagi, pintu surga itu terbawa, kita tak lagi dapat merawatnya😭😭

Saat beliau tak ada lagi, kita hanya bisa mendoakan, memohonkan ampun atas kelalaian ibadahnya selama ini tanpa bisa lagi membersamainya memperbaiki. Tak bisa lagi mengingatkan kekeliruan sikapnya kepada keluarga.

Saat beliau tak ada lagi, kita hanya bisa bersedekah atas namanya dan berharap Allah menerimanya, tanpa bisa menyaksikan ungkapan bahagianya setelah bersedekah kepada sesama lansia, tetangganya.

Saat beliau tak ada lagi, kepada siapa kita mengharap doa paling mustajab dan keridhoan yang mengiringi ridhonya Allah?

Saat beliau tak ada lagi, kita akan merindukan cerita sederhana yang diulang-ulang yang menjadi latar belakang kehidupan kita sebagai pelanjut keturunannya.

Ungkapkan rindu pada beliau saat munajat di malam-malam penuh berkah ini

Allahummaghfirli wali walidayya…

Allumma innaka affuwwun tuhibbul afwa fa’fu’anni.

 

#kontemplasi

10 malam terakhir Ramadhan 1442 H

Add Comment