Perjalanan ke Aek Nabara

Jum’at 17-12-21

Pagi, jam 8 pagi Ustadz Abdurrohim (UAR) dan istri menghampiri saya dan Abi, mau ke klinik, cek antigen, sebagai syarat naik pesawat, selain sudah vaksin.

Sempat deg-degan sedikit, bagaimana kalau hasilnya positif? Batal pergi, deh?
Eh, kan sudah ikhtiar dengan vaksin, juga sudah berdoa untuk dimudahkan segala urusan.
Bismillah, tawakkal aja.
Alhamdulillah, negatif.

Kemarin sudah janjian, Hilmy mau mengantarkan jam 11. Rencananya mau sholat Jumat di masjid dekat bandara, karena jadwal penerbangan jam 14.30.

Jam 11 Hilmy belum muncul, di luar hujan lumayan deras.
Sambil menunggu, Abi membereskan rumah, persiapan kalau-kalau banjir lagi, walaupun sangat tidak berharap, tapi tetap harus antisipasi.

Sudah terdengar adzan Dzuhur, kami langsung sholat. Ternyata Hilmy sudah di depan rumah, masih gerimis.
Kami segera berkemas.
Jam 12.40 berangkat, mampir ke rumah UAR dan di perjalanan beli perbekalan, siang belum makan dan antisipasi kalau terjadi delay saat transit.

Ngantri

13.20
Alhamdulillah, cek in di bandara Radin inten 2. Lancar, tidak banyak kendala yg berarti. Hanya sabar ngantri. Eh, ternyata ada sistem bagasi bermasalah.

Sambil nunggu panggilan masuk pesawat, saya sempatkan makan siang, walaupun belum terlalu lapar, karena jam sepuluh makan bakso, sedikit.

Makan dulu

Jam 16 baru sampe Cengkareng, di tiket, harusnya jam 16 sudah penerbangan kedua, ke Pakanbaru.

Weleh, mendarat di sekitar gate A, pesawat ada di gate D5. Harus teliti liat no bus bandara, kalau salah bus, bisa menghabiskan waktu.

Huff, krasa banget capenya orang yg jarang beraktivitas fisik. Ketinggalan terus. Bukannya Abi ga mau jalan dampingan, tapi kayaknya reflek aja karena waktu transitnya sempit.

Berangkat ke Pakanbaru jam 17.00. nggak sempet pipisssss ha  ha.

Ternyata kursi kami tidak bersebelahan, walaupun sebaris. Tak apalah.

Penerbangan ke Pakanbaru relatif lancar. Hanya sekali-sekali bertemu cuaca kurang baik, hujan dan kilat.

Seperti pernah terjadi saat penebangan ke Pakanbaru beberapa tahun lalu, saya mengalami gangguan telinga, karena pengaruh ketinggian dan tekanan udara. Namun tidak terlalu parah. Untuk mengatasinya, saya mengunyah permen jahe tradisional sambil terus berdzikir. Dalam kondisi membaik, saya buat catatan kecil di notes, karena hp dimatikan.
Saat terasa perut kembung, segera saya olesi krem penghangat, mencegah jangan sampai kram perut.


Mendarat di Pakanbaru saat terdengar adzan Isya.
Sebelum keluar, harus mengisi lembaran kertas kuning tentang kondisi kesehatan 14 hari terakhir (kalau nggak salah), karena di cek di peduli sehat, e-Hac masih kosong.

Sepertinya ada masalah saat pengambilan bagasi, karena Abi meminta saya menyimpan no hp seorang staf Lion.
Pak Samsul dan seorang temannya sudah menanti dengan kijang Innova.
Dalam perjalanan itulah saya baru tahu, ternyata ada satu barang di bagasi yang tertinggal di Cengkareng, mungkin dampak dari sistem yang bermasalah tadi.
“Saya tak sedih amat, karena yang tertinggal kardus isi buku, bukan koper pakaian Ibu,” komentar UAR.
Ha ha ha, tak terbayangkan jika hal itu terjadi.

Kemudian kami sholat di masjid Istiqomah, lanjut makan nasi goreng Padang di dekatnya. Nah, baru ini ketemu nasi goreng Padang, rasanya beda dengan nasi goreng pada umumnya yang dijual di Lampung. Begitupun mi rebus yang saya pesan.

Tepat jam 21.00 berangkat ke Aek Nabara.

Seperti biasa dalam perjalanan, saya sulit tidur. Walaupun sudah berganti beberapa posisi. Kadang duduk menyandar dengan kaki menjuntai, sekali kali kaki dinaikkan kursi untuk bersila atau rebahan berbantal paha Abi.
Lumayan, kijang Inova agak longgar.
UAR n istri di kursi belakang, saya n Abi di kursi tengah.
Perjalanan malam, tak ada keindahan alam yang dinikmati, kecuali lampu-lampu di sepanjang  jalan.

03.15 kami sampai di lokasi, UAR n istri di antar ke rumah yg sudah di sediakan di komplek pondok putri, sedangkan saya n Abi diantar ke rumah dekat komplek pondok putra yg berjarak kurleb 600 m dari pondok putri, kata UAR.

Rumah mungil tapi dengan dapur yang luas. Sederhana tapi bersih dan terawat. Rumah yang sengaja dikosongkan untuk kami.

Hal pertama yang saya lakukan, ke kamar mandi membersihkan diri, kemudian diterapi Abi.

“Masuk angin kasep,” komentarnya.

Saya hanya tertawa kecil, ya memang itu yang saya rasakan.

Mau tidur, tanggung. Lumayan, dapat sholat lail sekalian nunggu waktu subuh, baru melanjutkan tidur.

Begitupun, saya tidak bisa lama-lama tidur. Jam 6 sudah bangun dengan badan segar, efek terapi.

Anggap rumah sendiri, ha ha. Begitu, kan maksud kami ditempatkan di sini hanya berdua? Saya mencari panci untuk merebus air, untuk mandi.
Sambil menunggu air mendidih, saya makan nasi ayam krispi yang kemarin dibelikan Hilmy untuk bekal. Menjaga amanah orang-orang yang menyayangi:
“Jangan lupa makan.”
“Makan yang banyak ”
“Jaga makan.”

Setelah mandi, langsung buat kopi. Masih ada bakery, juga yang Hilmy belikan saat mengantarkan ke bandara kemarin.

CK ck ck, semangat banget, ya.
Eits, jangan lupa suplemen. Jauh-jauh kesini mau kerja, ga boleh sakit! Sekalian, jalan-jalan tipis-tipis.

Salah satu sarapan khas Aek Nabara

Sebelum jam 8, ada yang mengantarkan sarapan, khas Aek Nabara, lontong Medan. Isinya rame, beda dengan lontong sayur yang biasa di jual di Lampung.

Oke, untuk aktivitas selanjutnya, tamu siap menanti apa kata yang mengundang.

Add Comment