Rantau Prapat

21 Desember 2021

Tadi malam, saat makan mie Jambang, saya janjian dengan Bang Hamid, untuk bertemu.

Siapakah beliau?

Suatu hari, seseorang menghubungi saya lewat pesan WhatsApp, mengenalkan diri, Abdul Hamid dari Aek Nabara.
Beliau mendapat no hp saya dari buku Hafiz Rumahan, yang didapatkan dari seorang temannya.

Kalau orang lain biasanya bertanya tentang isi buku, nah yang ini membahas tentang buku dan kepenulisan. Beliau juga seorang penulis, setidaknya pernah menerbitkan buku, karena saya belum tahu seproduktif apa dalam kepenulisan.

Semua Allah mudahkan, sehingga kami diizinkan bertemu dan ngobrol asyik tentang tema bukunya, dan…ehem…ada tawaran untuk kolaborasi, jika memungkinkan. Semoga Allah izinkan, aamiin.
Tak terasa, satu jam berlalu, sampai beliau berpamitan. Dan seperti biasa, kami saling memberi hadiah berupa buku, yah namanya seleranya sama.

Selanjutnya, kami ke rumah ustadz Marfin, melanjutkan wawancara dan mengumpulkan dokumentasi. Ada beberapa pertanyaan yang saya ulang secara kronologis, mengingat sebelumnya banyak cerita yang meloncat-loncat.

Sampai pada pembahasan awal berdirinya pesantren, ustadz Marfin memerintahkan Pak Samsul untuk menjemput Pak Sa’ad, salah satu yang terlibat dalam pendirian pesantren. Sepertinya rumahnya tidak terlalu jauh, karena hanya butuh waktu sebentar, beliau sudah muncul.

Kemudian, Ustadz Marfin mengajak kami ke rumah teman kecilnya. Karena Pak Samsul sedang tidak ada, akhirnya Abi yang mengemudikan mobil Ustadz Bukhori.

Kali ini hanya dua orang yang ditemui.

Pertama Pak Cahyani, teman SR yang bersamanya menggergaji kayu untuk di jual sebagai kayu bakar untuk karyawan perkebunan.

Kedua, Pak Sumarno, teman kecil yang bersama-sama menjual es keliling.

Tidak berlama-lama, kami pulang. Setelah berpamitan, segera kami mengendarai motor ke rumah singgah. Sempat mampir ke Indomaret, membeli keperluan yang sudah habis.

Nah, sepertinya ini awalnya. Dalam kondisi setelah terkena terik matahari, langsung masuk ruangan AC yang entah berapa derajat. Yang jelas terasa sangat dingin. Nah, kurang baiknya, terpaksa agak lama di ruangan itu karena kesulitan mencari barang yang akan dibeli.
Dari situ sudah ada firasat.

Lucu juga, siang terik, sampai rumah digosok dengan hotkrem. Apa rasanya di kulit? Nabara, eh, membara.

Setelah sholat, saya rebahan. Makan sudah sulit. Hanya nasi tanpa lauk. Putar otak, bagaimana caranya supaya tidak berlanjut parah.

Namun bagaimanapun diusahakan, ya tetap butuh waktu untuk prosesnya.

Mau bagaimana lagi.
Akhirnya diputuskan, saya di rumah, Abi yang menggantikan mengisi acara bedah buku sebagai Nara sumber, di Rantau Prapat, sore harinya.

Ha ha, padahal sebelum berangkat, saya sudah punya niat minta diantar ke Rantau Prapat, yang saya kira tempat wisata yang terkenal itu. Ternyata, itu Parapat, di dekat danau Toba. Jadi nggak terlalu kecewa juga.

Kok bisa?

Bisalah, Abi kan editornya.

Di sana, Abi juga bertemu dengan salah satu teman Ustadz Marfin yang sudah lama tidak bertemu.

Malam harinya, saya berusaha untuk istirahat maksimal. Walaupun seperti biasa malam terbangun, tapi tidak turun, sampai terdengar adzan subuh.

Pagi pun masih belum berani keluar. Alhamdulillah, keluhan sebatas di lambung, semoga tidak ke kepala. Mohon banget pada Allah, supaya tidak ada hambatan lebih dari ini sampai tuntas amanah di sini, aamiin.

Kemarin sudah berencana bertemu dengan Mba Tyas, sebagai salah satu menantu Ustadz Marfin, sekaligus pimpinan pondok putri.

Setelah komunikasi lewat wa, diputuskan beliau yang akan ke rumah singgah, setelah Dzuhur.

Beliau datang dengan membawa SOP tulang dan duren. Kami makan siang sambil ngobrol santai tentang berbagai hal, terutama penilaiannya terhadap mertua. Sementara Abi sedang ada tamu, yang dibawa ke masjid. Namun, sampai malam, saya belum berani makan duren. Besok, mungkin.

Alhamdulillah, kondisi saya lumayan membaik, setidaknya tidak memburuk. Namun tetap, masih membatasi aktivitas. Masih ada wawancara yang harus dilakukan, maka dengan sedikit pengarahan, Abi yang berangkat.

Tadinya, kami pulang dijadwalkan hari Kamis, ternyata tidak ada jadwal penerbangan dari Medan. Maka, kepulangan diundur sampai Jum’at, semoga besok sudah bisa keluar, setidaknya ada yang bisa dilihat-lihat selain urusan penulisan buku, sebelum meninggalkan Aek Nabara.

4 Comments

  1. Naqiyyah Syam Desember 28, 2021
  2. Latifah Desti Lustikasari Desember 30, 2021
    • nenysuswati123 Desember 30, 2021
  3. Rika Widiastuti Altair Desember 30, 2021

Add Comment