Raudlatul ‘Uluum Aek Nabara, Pesantren Tahfiz Enterpreneur

Senin, 20 Desember 2021

Jam 6 pagi Kak Lily, salah satu keponakan Ustadz Marfin yang juga mengajar guru Diniyah di SMK, menawarkan diri untuk mengantar saya melihat-lihat sekolah di bawah payung Yayasan Raudlatul ‘Uluum.

“Saya jemput ya, Bu.”

“Setengah jam lagi, ya?”

“Siap, Ibu.”

Jam 06.30 kami berangkat beriringan menuju Tsanawiyah dan TK Islam RU, satu lokasi dengan rumah tinggal ustadz Marfin.

Kemarin kami belum sempat menengok, karena mengutamakan wawancara dengan Ustadz Marfin.

Kami meninjau lokasi, sambil menunggu kesiapan Ustadz Marfin dan istri untuk wawancara.

Kak Lily menjelaskan perjalanan dan perkembangan TK dan Tsanawiyah, sebatas pengetahuannya, karena bergabung ke RU baru 6 tahun, setamatnya dari kuliah.

Saat wawancara siap dilakukan, Kak Lily berpamitan, dan siap dikabari kalau wawancara sudah selesai untuk meninjau lokasi yang lain.

Hampir 3 jam kami ngobrol sambil melihat-lihat foto dokumentasi, dan Abi mendokumentasikan beberapa di antaranya untuk keperluan penulisan buku.

Setelah dirasa cukup, sesi wawancara diakhiri.
Saya menghubungi Kak Lily untuk melanjutkan melihat lokasi SMK dan yang lainnya.

Sambil menunggu, saya makan nasi goreng yang sudah dingin, karena sudah dihidangkan tiga jam lalu, sedang Abi menerapi kaki Ustadz Marfin.

Selanjutnya kami ke lokasi SMK yang mana di sana juga terdapat Madratsah Ibtidaiyah RU.

Setelah melihat-lihat dari luar gedung, Kak Lily mengajak kami ke lantai dua, yang dijadikan ruang praktek sekaligus produksi jurusan tata busana.

Keren!
Lagi-lagi, sesuatu yang mengagumkan terlihat di sini. Sebuah pengelolaan yang efektif dan efisien. Saya sempatkan bincang-bincang dengan Kak Jur, penanggung jawab di ruang produksi busana sekaligus kepala jurusan tata busana. Selain siswi SMK jurusan tata busana, santri pondok Tahfiz juga mendapat kesempatan belajar, agar mendapat bekal ketrampilan.

Jadi, boleh ya kalau saya menyebut, Raudlatul ‘Uluum Aek Nabara sebagai Pesantren Tahfiz Enterpreneur? Perpaduan imtaq (iman taqwa) dan imtek (ilmu dan teknologi) yang ada di bawah satu payung.

Berikutnya, kami menuju lokasi masjid Nurul Iman, yang dalam pengelolaannya mirip dengan masjid Munzalan di Kalimantan dan masjid Jogokariyan di Yogyakarta, yang mampu menghimpun dana besar tapi langsung disalurkan ke masyarakat, salah satunya dengan menyediakan dapur umum untuk dhuafa yang setiap hari menyediakan makanan untuk masyarakat yang membutuhkan dan sudah terdata.

Cape! Istirahat dulu di rumah.

Hampir jam 5 sore, Ustadz Marfin datang diantar Pak Samsul, mengajak kami silaturahim ke rumah teman-teman saat mudanya.

Pertama kami ke rumah Bu Sikem, teman perjuangan dan penerusnya dalam mengelola Raudlatul ‘Athfal RU. Yang kini sudah mendirikan TK sendiri. Dari beliau saya mendapat tambahan untuk penulisan buku.

Selanjutnya ke rumah Pak Daud, teman belajar di masa sekolahnya. Dua orang yang sama-sama senang belajar dan cinta ilmu.

Berikutnya ke rumah Pak Pur, menjelang Maghrib.
Saya di tinggal di rumah beliau, sementara bapak-bapak sholat di masjid.

Ketika sedang sholat Maghrib, lampu padam.
Kemudian kami berpamitan, karena Pak Pur sedang kenduren, mungkin besok silaturahim dilanjutkan.

Ustadz Marfin mengajak kami makan di mi Jambang. Saat beranjak dari warung, saya baru menyadari bahwa sandal yang saya pakai, tertukar.

“Ayo kita balik ke rumah Pak Pur!” ajak Ustadz Marfin.

“Ini cara Allah agar kita menyempurnakan niat,” kata saya, tertawa.


Akhirnya kami kembali dan mendapatkan tambahan cerita dari beliau.

“Terakhir, kita ke rumah Pak Timan,” kata Ustadz.

Walaupun kemarin sudah bertemu, tentu menyenangkan jumpa lagi dengan Pak Timan yang selalu riang, tentu dengan istrinya.

Istri Pak Timan menghidangkan tiwul istimewa yang kemarin diceritakan. Iya, memang istimewa.

Terakhir, kami mengunjungi pondok putra, berjumpa dengan Ustadz M. Nur Lubis, ustadz senior yang merintis pondok, dan terus bersama hingga kini.

Add Comment