Tokoh Inspiratif dari Aek Nabara

Ahad, 19 Desember 2021

Sebelumnya: Perjalanan ke Aek Nabara

Sekitar jam 6 pagi, Ustadz Bukhori menjemput kami, untuk bertemu ayahandanya, Ustadz Marfin. Beliau alasan utama kami sampai di Aek Nabara. Ya, tujuan utama kami mengumpulkan bahan untuk buku yang akan saya tulis, insyaallah.

Waktu hampir dua jam terasa begitu cepat, saat kita ngobrol dengan orang yang inspiratif dan menyimpan segudang pengalaman hidup.

Baca juga: Kenali dan Lejitkan Potensi Diri

Ha ha, baru pembukaan dari lembaran-lembaran kisah hidup yang diukirnya.

Menjelang jam 8, kami berangkat ke lokasi, dimana acara akan digelar.

Bersama UAR, Ummu Hasan dan ustadz Marfin, kami pergi ke lokasi. Mampir sebentar ke rumah singgah kami, untuk berganti pakaian.
Tidak sampai 5 menit, hanya berganti pakaian yang sudah saya setrika ulang tadi, setelah sholat subuh.

Sampai di lokasi, nampak tarup yang dibangun sudah terisi lebih dari setengahnya, di sisinya, nampak barisan tamu yg sedang antri registrasi, sebagian besar mereka adalah orang tua/walisantri.

Kami dipersilakan duduk di panggung besar yang sudah disediakan. Di sana sudah ada ustadz Bukhori yang datang lebih pagi, mengawasi persiapan panitia.

Kami diarahkan untuk duduk di kursi yang sudah di atur penempatannya.

Jam 9 tepat acara seremonial di mulai oleh 3 santriwati sebagai MC dengan menggunakan 3 bahasa, Arab, Inggris dan terakhir bahasa Indonesia.
Keren! Semoga dengan bekal kemampuan 3 bahasa ini, para santri bisa lebih leluasa membuka kunci-kunci ilmu.

Acara diawali dengan tilawah Al Qur’an oleh seorang santri atau (ustadz?) dengan qiraat 4 riwayat. Masyaallah, adem rasanya, mendengar ayat-ayat Allah yang dibaca dengan dengan suara indah.

Berikutnya, giliran Ustadz Bukhori, sebagai pimpinan Pondok Pesantren menyampaikan sambutan dan pengarahan kepada santri yang akan perpulangan, sekaligus sosialisasi visi misi pondok serta menyampaikan perkembangan Raudlatul ‘Uluum yang masyaallah, luar biasa.
Benar kata UAR, Ustadz Bukhori seorang orator dan motivator ulung.

Dalam sambutannya, beliaupun menyampaikan bahwa saya akan menuliskan buku tentang perjuangan ayahandanya yang diharapkan bisa menjadi inspirasi generasi muda, terutama para santri.

Wah, harus serius nih mengerjakannya, sudah banyak yang tahu rencana ini. Semoga Allah mudahkan, aamiin.

Setelah beberapa sambutan dari tokoh, giliran kami kebagian seminar parenting. Abi sebagai moderator, UAR dan saya sebagai narasumber.
Sesuai apa yang disampaikan Ustadz Bukhori, intinya bagaimana seharusnya pondok dan orang tua saling mendukung dalam program pendidikan santri, ibarat dua tangan yang bertepuk agar menghasilkan bunyi yang menggaung.
UAR menekankan bagaimana orang tua di rumah harus menghidupkan ta’lim di rumah untuk mengimbangi perjuangan anak yang menghafalkan Al-Qur’an di pondok.

Saya menambahkan, yang intinya, pesantren hanya mitra dalam mendidik anak, bukan menggantikan peran orang tua sepenuhnya. Itu sebabnya, harus terjalin komunikasi efektif agar pihak orang tua, guru dan anak memiliki persepsi dan semangat yang selaras dalam mencapai tujuan pendidikan.

Acara selesai saat adzan Dzuhur, sementara laki-laki sholat di masjid pondok putra, santri putri diberi kesempatan bersalam dengan saya dan Ummu Hasan, sebelum kembali ke pondok putri lalu pulang bersama orangtuanya.

Selanjutnya kami diantar ke rumah Ustadz Marfin untuk makan siang bersama tamu-tamu yang lain. Memang ada rencana wawancara dengan beberapa tokoh yang dekat dengan Ustadz Marfin dan terlibat dalam berbagai aktifitas perjuangannya.

Setelah makan saya ditemukan dengan Pak Timan, yang kata ustadz Bukhori, sosok bertangan dingin yang membersamai tumbuh kembangnya Madratsah Ibtidaiyyah Raudlatul Uluum dari awal dibangunnya. Seorang yatim dari kecil dan menurut ibunya, nama Timan maknanya Tidak Manja.

Sosok sederhana yang sungguh kaya dengan ide-ide kreatif. Pantaslah kalau sekolah yang dikelolanya berkembang pesat.

“Jangan marah-marah, tetapi ramah-ramahlah. Jangan bawa parang, tetapi bawalah rantang!”

Sebuah nasihat yang pernah beliau terima dari seorang tokoh yang sangat berpengaruh dalam jiwanya dan dijadikan pegangan saat menghadapi masalah dengan guru, murid dan siapapun yang berinteraksi dengan beliau.

Bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya mempertemukan saya dengan tokoh-tokoh inspiratif. Dan tugas berikutnya, memperluas inspirasi itu dengan tulisan sehingga lebih banyak lagi orang-orang yang terinspirasi. Bismillah.

Sepertinya cukup perburuan hari ini, insyaallah besok dilanjutkan.

Doakan kami selalu sehat, agar perjalanan ini mendapatkan hasil yang diharapkan, aamiin.

One Response

  1. Naqiyyah Syam Desember 22, 2021

Add Comment